Meraih cita-cita di masa depan dengan mulai buka tabungan SIPANDIK di Kopdit Swastisari
Melihat raut wajah polos nan ceria dari adik-adik ini mengingatkan kembali akan masa kecil saya kurang lebih sekitar belasan tahun yang lalu.
Mereka tampak bersahaja dan bersahabat. Begitu akbrabnya dengan saya hanya dalam sekejab.
Mereka adalah anak-anak di perumahan puri indah manulai 2 yang saya temui saat menjalankan tugas di lapangan.
**
Sebut saja mama Diana (bukan nama asli) yang merupakan salah satu anggota koperasi kredit swastisari yang tinggal di kompleks perumahan puri indah manulai 2.
Mama Diana sebelumnya sudah sepakat dengan saya untuk menjemput pembayaran angsuran pinjaman di rumahnya sesuai kesepakatan waktu yang telah kami sepakati.
Siang menjelang sore saat sang surya mulai perlahan mengurangi panas teriknya, kira2 pukul 3 sore saya tiba di rumah mama Diana.
Di halaman rumah mama Diana tempat motor saya diparkir, saya berjumpa dengan anak2 kompleks perumahan yang sedang asyik dan ramai bermain "gala asing".
Sontak kaget melihat mereka datang menghampiri saya, mereka bertanya, "om mau pi mana? ". "Om mau datang di mama Diana sini", jawab saya sembari menebar senyum pada mereka.
Saat saya masuk berjumpa mama Diana di rumah, beliau nampaknya sudah tahu tujuan kedatangan saya, oleh karenanya, setelah mempersilahkan saya duduk, beliau langsung pergi ke belakangan mengambil uang pembayaran angsuran pinjaman, buku saham dan pinjaman untuk dicetak.
Cukup lama saya menunggu, mungkin karena masih mencari buku yang lupa beliau simpan dimana. Tiba-tiba anak-anak yang tadi di halaman rumah masuk ke dalam rumah dan duduk bersama saya di ruang tamu.
Salah satu dari mereka, Refi namanya bertanya, "Om dari mana?", "Om dari Kopdit Swastisari", balas saya menjawab.
"Oh, koperasi Swastisari, b pung mama deng b pung bapa ju anggota di situ om", sambung Rio dengan penuh bersemangat. "Oh begitu e, bae su adi", sambung saya pada Rio.
Lalu Evi, adik paling kecil berbaju hijau berusia kurang lebih 4 tahun yang sementara berdiri di samping kiri saya bertanya, "Om, koperasi swastisari tu apa?".
"Koperasi swastisari tu tempat dimana katong pi tabung katong pu uang. Setelah katong tabung, katong bisa pinjam ju", jawab saya singkat dengan bahasa sederhana agar mudah mereka mengerti.
"Om mau tanya dulu, disini sapa yang suka tabung uang? Atau sapa yang ada sementara tabung uang di celengan? ", tanya saya lanjut.
"Beta, beta, beta om...", jawab mereka rebutan sambil mengangkat tangan. "Wihh, bae su,, pintar semua ee, dong su rajin tabung uang ee", sambung saya.
"Nanti kalau adi dong mau, om daftar adi dong masuk tabung di buku sipandik sa di swastisari, bagus untuk adi dong yang masih sekolah begini,, nanti adi dong pulang pi rumah sebentar kastau mama deng bapa bilang beta mau tabung be pung uang dong di swastisari sa, di buku sipandik", kata saya memberi arahan.
"Kalau adi dong simpan adi dong pu uang di celengan nanti ada orang laen bisa ambel/curi, lebae adi dong suru bapa deng mama ko deng adi dong pi swastisari ko tabung sa di sipandik, tiap bulan adi dong pu uang tambah banyak karena ada bunga, baru orang laen son bisa ame atau curi, dari pada adi simpan di celengan son ada bunga kaget kalau adi dong pu uang di celengan ilang lai karmana", lanjut saya menjelaskan.
"Evi pung cita-cita mau jadi apa suatu saat?", tanya saya lagi. "Beta mau jadi dokter om", jawab Evi penuh semangat. "Wiihh, keren, hebat ee evi", sambung saya mendukung.
"Kalau Aril mau jadi apa su besar"?. "Beta mau jadi polisi", jawab Aril. "Kalau beta mau jadi tentara", "beta ju", sambung Rio dan Fanri lagi tak mau kalah.
"Bae-bae kalau begitu, om dukung sa, ma nanti pulang pi rumah na kastau mama deng bapa, bilang beta pung cita-cita jadi dokter atau polisi atau tentara jadi mama deng bapa harus buka kas beta tabungan sipandik di swastisari supaya beta bisa tabung dari sekarang, supaya suatu saat na be jang susah lai dan mama deng bapa son pusing banyak le karena beta su ada tabungan ko bantu bapa deng mama", lanjut saya menghimbau mereka.
"Ia om, ia om nanti katong pulang kastau mama deng bapa", jawab mereka gembira.
"Ia jang lupa oo,, bilang sa buka tabungan sipandik hanya 16 ribu sa, 6 ribu uang buku dan 10 ribu simpanan awal di dalam buku,, nanti pi kantor ko daftar na bawa deng kartu keluarga, nanti tiap bulan pi kantor ko tabung minimal 10 ribu, kalau ada uang lebih na tabung banyak. Suatu saat son sadar adi dong pu uang su banyak to,, enak to", lanjut saya.
"Ma om nama sapa dolo supae mama deng bapa tanya na katong kastau bilang om sapa dari swastisari?" balas Refi bertanya lagi.
"Om pu nama Tonny... ", jawab saya. Eh tiba-tiba mereka tertawa.
"Om Tonny oooo, hibur hibur sa to om Tonny.....sambung lagi mereka dengan tertawa sambil keluar dari rumah"....
Ah mereka ini,, polos-polos lucu menginspirasi... Makasih adik2 semoga nanti bapa deng mama pi daftar masuk sipandik...
**
Simpanan pendidikan (SIPANDIK) dengan bunga 4% per tahun atau 0.33% per bulan. Pendaftaran mudah dan cepat hanya dengan membawa foto copy kartu keluarga beserta uang administrasi awal sebesar16 ribu rupiah...
Daftar SIPANDIK atau mau bergabung jadi anggota baru segera dengan lebih banyak manfaatnya lagi.
Ayo daftarkan diri, keluarga atau kenalan dengan segera di kantor swastisari terdekat atau hub no 082247942122😊🙏🙏


Komentar
Posting Komentar